siprus

Pada Mei 2025, Siprus menyelenggarakan pameran seni kontemporer internasional pertamanya — VIMA.ART —sebuah inisiatif tepat waktu yang berupaya memposisikan pulau ini tidak hanya sebagai persimpangan geografis, tetapi juga sebagai tempat pertukaran seni yang bermakna di Mediterania Timur dan sekitarnya. Bertempat di sebuah gudang anggur yang telah dialihfungsikan di tepi laut Limassol, VIMA berdiri dengan tujuan yang jelas: untuk mencerminkan kompleksitas budaya konteksnya sekaligus menawarkan platform bagi suara-suara yang sedang berkembang maupun yang sudah mapan dari Siprus, kawasan yang lebih luas, dan lebih jauh lagi.

Alih-alih mengadopsi skala dan kemegahan yang sering dikaitkan dengan pameran seni global, VIMA berfokus pada pendekatan yang lebih intim dan penuh pertimbangan. Dengan partisipasi yang hanya dapat diakses melalui undangan dan pilihan terfokus dari 27 galeri—termasuk 10 galeri dari Siprus—pameran ini menawarkan representasi lokal dan internasional yang seimbang. 

Inti dari pameran ini terletak pada komitmen untuk menciptakan bukan hanya pasar, tetapi juga tempat pertemuan budaya—yang merespons perubahan demografi pulau ini, sejarahnya yang berlapis, dan relevansinya yang semakin meningkat dalam lanskap seni kontemporer. Wawancara berikut ini menawarkan refleksi dari keinginan VIMA untuk menghubungkan, mempertanyakan, dan menata ulang seperti apa pameran seni di Siprus.

Apa yang menginspirasi Anda untuk mendirikan VIMA Art Fair di Siprus, dan bagaimana lokasi tersebut memengaruhi visi Anda?

Kami ingin berkontribusi pada ekosistem seninya yang sudah mengesankan dan berkembang pesat—VIMA muncul secara bertahap setelah banyak riset dan interaksi dengan komunitas lokal. Sejak menjadikan Siprus sebagai rumah kami, kami semua terus-menerus menyaksikan pembukaan ruang seni, galeri, dan yayasan baru, khususnya di Limassol. 

Meskipun sebagian besar seniman tinggal dan berkarya di ibu kota negara, Nikosia, Limassol telah berkembang menjadi pusat kegiatan budaya dan komersial yang dinamis, menawarkan lingkungan yang dinamis untuk pameran seni. Meningkatnya jumlah galeri dan seniman yang aktif berkarya di sini dan membangun koneksi internasional memberikan fondasi yang kokoh untuk menyelenggarakan pameran seni—hal ini terasa sangat penting dan tepat waktu.

Mengingat posisi historis Siprus sebagai persimpangan di Mediterania—tempat berkumpul alami—hampir mustahil untuk tidak menjelajahi wilayah sekitarnya dan hubungannya dengan wilayah tersebut

Karena Siprus terletak di persimpangan geografis dan budaya yang unik di Mediterania, Pameran Seni VIMA memiliki fokus regional yang kuat. Partisipasi hanya berdasarkan undangan, dengan target hingga 30 galeri, sehingga menciptakan suasana yang selektif dan intim. Proyek kuratorial dan program paralel kami juga bertujuan untuk menyoroti seni kontemporer di kawasan ini serta warisan budaya Siprus yang kaya.

Bagi kami, kedekatan dengan laut itu penting. Bagian krusial dari identitas VIMA adalah Mediterania dan hubungan budayanya dengan wilayah sekitarnya. Laut Mediterania menghubungkan semuanya. Setelah kami menyadari bahwa ada tempat yang menawarkan kesempatan ini, kami pun mengiyakan. Bangunan ini juga berakar pada sejarah Siprus, dan menyelenggarakan pameran seni internasional di sana terasa bermakna.

Bagaimana elemen arsitektur dan sejarah tempat tersebut memengaruhi pendekatan kuratorial dan pengalaman pengunjung?

Hal ini paling jelas ditunjukkan melalui Proyek Kuratorial luar ruangan VIMA yang dirancang khusus untuk lokasi tertentu oleh Ludovic Delalande, seorang seniman yang berbasis di Paris. Pameran kelompok bertajuk ‘The Posterity of the Sun’ menampilkan karya-karya 16 seniman dan seorang penulis yang terhubung, sekali lagi, oleh Mediterania. Kali ini, alih-alih laut yang menjadi faktor kesamaan, mataharilah yang menjadi faktor kesamaannya. Dipamerkan di ruang kosong tempat pameran, di antara reruntuhan arsitektur yang membusuk—matahari menjadi benang merah mereka. Setiap karya berdialog dengan ruang dan perubahan kehadiran matahari di dalamnya, sementara pameran itu sendiri merefleksikan lenyapnya matahari yang akan datang (dalam lima miliar tahun), dalam konteks kondisi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *